AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA LOKAL

Main Article Content

Ahmad Arifai

Abstract

     ABSTRACT
In the diversity of Muslim community, it cannot be separated from the local traditions that live and develop in accordance with the conditions of the local community, where they live, communicate, and adapt according to the existing environment. The process of spreading Islam in the archipelago has never been separated from the process of cultural acculturation, so the teachings of Islam brought by traders from Arabs and saints are easily accepted by the people of the archipelago. It is because in the teachings of Islam, the propagators of Islam has never spread religion through violence and hostility, but through peace, acculturation with local culture so that gradually forms a new culture by not removing the original form of that culture. In such reality, religion is nothing but synonymous with tradition. Or a cultural expression of people's belief in something sacred, about the expression of faith towards the creator. If the relationship between religion and tradition is placed as a form of interpretation of history and culture, then all domains of religion are human creativities which are very relative. This means that the religious truth that everyone believes is "right", basically it is limited to what humans can interpret and express relative to "truth", the absolute god. Thus, whatever form is taken by human attitudes to defend, renew or refine religious traditions, it must still be seen as human phenomenon of its history, without having to be seen that one has the right to negate the "truth" claimed by others, while stating that "truth" which he has as “the most correct”. When Islam develops in one region, it will never be the same as Islam in another area. For example; Islam in Arab with Islam in Java, although that does not mean it is a deviation from Islam but rather it is a variant of Islam.
Keywords: Acculturation, Islam and Local Culture
 
ABSTRAK
Di dalam keberagamaan masyarakat muslim tidak bisa lepas dari tradisi lokal yang hidup dan berkembang sesuai dengan keadaan masyarakat setempat, dimana mereka hidup, berkomunikasi, dan beradaptasi sesuai dengan lingkungan yang ada. Proses penyebaran agama Islam yang ada di Nusantara tidak pernah terlepas dari proses akulturasi budaya, sehingga ajaran agama Islam yang dibawa oleh para pedagang dari Arab dan para wali dengan mudah diterima oleh masyarakat Nusantara. Karena dalam ajaran agama Islam, para penyebar agama Islam tidak pernah menyiarkan agama melalui kekerasan dan permusuhan, akan tetapi melalui kedamaian, akulturasi dengan budaya lokal sehingga lambat laut terbentuk kebudayaan baru dengan tidak menghilangkan bentuk asli dari kebudayaan tersebut. Dalam kenyataan seperti itu, agama tidak lain menjadi identik dengan tradisi. Atau sebuah ekspresi budaya yang keyakinan orang terhadap suatu yang suci, tentang ungkapan keimanan terhadap yang kuasa. Jika hubungan agama dan tradisi ditempatkan sebagai wujud interpretasi sejarah dan kebudayaan, maka semua domain agama adalah kreatifitas manusia yang sifatnya sangat relatif. Artinya bahwa, kebenaran agama yang diyakini setiap orang sebagai yang “benar”, pada dasarnya hal itu sebatas yang bisa ditafsirkan dan diekspresikan oleh manusia yang relatif atas “kebenaran”, tuhan yang absolut. Dengan demikian apapun bentuk yang dilakukan oleh sikap manusia untuk mempertahankan, memperbaharui atau memurnikan tradisi agama, tetap saja harus dipandang sebagai fenomena manusia atas sejarahnya, tanpa harus dilihat banwa yang satu berhak menegasikan “kebenaran” yang diklaim oleh orang lain, sambil menyatakan bahwa “kebenaran” yang dimilikinya sebagai yang “paling benar. Ketika Islam itu berkembang di suatu daerah tidak akan pernah sama dengan Islam yang ada di daerah lain. Contoh; Islam di Arab dengan Islam yang ada di Jawa, meskipun demikian bukan berarti itu adalah penyimpangan dari Islam melainkan itu adalah varian Islam.
Kata Kunci: Akulturasi, Islam dan Budaya Lokal

Article Details

How to Cite
Arifai, A. (2019). AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA LOKAL. As-Shuffah, 1(2), 1-17. https://doi.org/https://doi.org/10.19109/as.v1i2.4855
Section
Articles