Jurnal Ilmu Agama: Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA <p><img src="/public/site/images/jiajurnal/cover_issue_414_en_US_-_Copy.jpg"></p> <p>Jurnal Ilmu Agama: Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama is a journal that studies the Doctrine, Thought, and Religious Phenomena published by the Faculty of Usuluddin and Islamic Thought of Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Jurnal Ilmu Agama began in 2016 in two versions, print and online. Jurnal Ilmu Agama published in June and December. There are two version of publication; print out (p) with ISSN: <a href="http://www.issn.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1427073876&amp;1&amp;&amp;" target="_blank" rel="noopener">2443-0919</a> and electronic (e) with ISSN Online: <a href="http://www.issn.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1485406719&amp;1&amp;&amp;" target="_blank" rel="noopener">2549-4260.</a></p> Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang en-US Jurnal Ilmu Agama: Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama 2443-0919 <h4>The requirements that must be met by the author are as follows:</h4><ol><li>The author saves the copyright and gives the journal simultaneously with the license  under <span>Creative Commons Attribution License </span>which permits other people to share the work by stating that it is firstly published in this journal.</li><li>The author can post their work in an institutional repository or publish it in a book by by stating that it is firstly published in this journal.</li><li>The author is allowed to post their work online (for instance, in an institutional repository or their own website) before and during the process of delivery. (see<span>Open Access Effect</span>).</li></ol> TAFSIR HAJI: PROBLEM DAN REALITAS, TANTANGAN PELAKSANAAN HAJI BAGI JAMAAH INDONESIA http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA/article/view/5071 <p>Artikel ini fokus pada makna haji dalam al-Qur’an yang diiringi dengan pemahaman dan pengamalan&nbsp; jamaah haji dalam pelaksanan ibadah haji. Pemahaman dan pengalaman jamaah haji dapat dilihat dalam pelaksanaan ibadah haji itu sendiri.</p> <p>Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan dari tahun ke tahun menunjukkan antusias yang sangat tinggi untuk melaksanakan ibadah haji. Hal ini dapat dilihat semakin banyak angka waiting list calon jamaah haji Indonesia. Beragamnya tingkat pendidikan jamaah calon haji Indonesia, kemampuan bahasa dan budaya,&nbsp; merupakan reliatas jamaah calon haji Indonesia. Tantangan yang dihadapi pemerintah selaku pelaksana layanan ibadah haji adalah bagaimana memberikan layanan maksimal bagi jamaah calon haji Indonesia. Bentuk layanan terhadap jamaah calon haji Indonesia adalah layanan transportasi, akomodasi dan konsumsi.</p> <p>Artikel ini menunjukan bahwa jamaah haji Indonesia memahami melaksanakan haji merupakan perintah wajib bagi umat Islam dan merupakan rukun kelima dari rukun Islam. Tujuan melaksanakan haji bukanlah untuk mendapatkan gelar haji atau posisi terhormat di masyarakat, namun semata-mata mencari ridha Allah dan mendapat haji mabrur. Pengalaman spiritual jamaah haji sangat dirasakan jamaah tatkala memasuki Masjidil Haram dan tempat-tempat ziarah lainnya selama melakukan ritual-ritual haji. Pemerintah selaku pelaksana haji berupaya untuk memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah haji. Pelaksanaan haji berjalan dengan baik dan lancar. Jamaah haji merasa puas dengan layanan haji yaitu layanan akomodasi, konsumsi dan transportasi.&nbsp;</p> <p><strong>Kata kunci</strong><em>: Tafsir haji, realitas, problem, tantangan, jamaah haji.</em></p> Halimatussa’diyah Halimatussa’diyah ##submission.copyrightStatement## 2020-01-21 2020-01-21 20 2 10.19109/jia.v20i2.5071 WIHDAT AL-ADYÂN (KESATUAN AGAMA-AGAMA) DALAM SYAIR SUFISTIK SYAIKH UMAR IBN AL-FARÎDH http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA/article/view/5072 <p><em>Wihdat al-Adyân</em> (kesatuan agama-agama) adalah salah satu tema besar yang muncul di dalam aliran tasawuf falsafi. Ajaran ini biasanya berkembang dari ajaran tentang <em>al-hubb</em> al-Ilâhi dan <em>wihdat al-wujûd</em>. Oleh karena itu, para sufi penganut faham <em>wujûdiyah </em>pasti juga akan mengajarkan tentang <em>wihdat al-adyân </em>ini. Termasuk Syaikh Umar ibn al-Farîdh, sufi asal Mesir yang hidup pada abad ke VII H. Artkel ini, ditujukan untuk mengkaji secara lebih mendalam pemikiran sufistik ibn al-Fâridh tentang <em>wihdat al-adyân</em> di dalam <em>Dîwân ibn al-Fâridh</em>. Bertolak dari doktrin cinta ilahi dan <em>wujudiyah</em> ini, ibn al-Fâridh sampai pada ajaran tentang <em>Wihdat al-adyân</em> (kesatuan agama-agama), bahwa walaupun agama-agama itu secara lahiriah berbeda, namun pada hakikat dan substansinya adalah satu. Walaupun mereka mempunyai cara beribadah yang bereda-beda, semuanya menyerukan penyembahan kepada Tuhan. Menurut ibn al-Fâridh, agama-agama yang tiga, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam, diatur dalam satu jalan yang sama, yaitu jalan wahyu ilahi.</p> <p><strong>Keywords: </strong><em>Syaikh Umar ibn al-Farîdh, Dîwan, WIhdat al-Adyân, al-Hub al-Ilahi</em></p> Idrus al-Kaf ##submission.copyrightStatement## 2020-01-21 2020-01-21 20 2 10.19109/jia.v20i2.5072 AYAT-AYAT POLITIK DALAM WACANA TAFSIR KIAYI-SANTRI STUDI DI KOTA PALEMBANG http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA/article/view/5073 <p>Penelitian ini mengkaji bagaimana wacana tafsir kiayi-santri yang ada di kota Palembang tentang ayat-ayat politik yang ada di dalam al-Quran. Pemahaman kiayi-santri tersebut penting diungkap mengingat kedudukan mereka yang cukup istimewa di masyarakat. Dari kiayi-santri, biasanya informasi seputar putusan-putusan hukum agama, tidak terkecuali pandangan politik mereka turut mempengaruhi dinamika sosial dan kehidupan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode hermeneutic dan analisis wacana untuk melihat bagaimana wacana tafsir kiayi-santri tentang ayat-ayat politik. Dengan sampel para kiayi-santri yang diambil secara random dari berbagai pondok pesantren di kota Palembang didapati kesimpulan bahwa wacana tafsir mereka tentang ayat-ayat politik selalu bersifat kontekstual dan normatif. Hal ini disebabkan karena kiayi-santri selalu melihat realitas politik di sekitarnya dan nilai-nilai ideal yang ada dalam al-Quran.</p> <p><strong>Kata kunci</strong> : <em>ayat-ayat politik, wacana tafsir, kiayi-santri, kontekstualisasi</em></p> John Supriyanto Muhammad Noupal ##submission.copyrightStatement## 2020-01-21 2020-01-21 20 2 10.19109/jia.v20i2.5073 ISLAM DAN HAM DALAM BINGKAI TOLERANSI BERAGAMA DAN BERBANGSA http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA/article/view/5074 <p>Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB pada tahun 1948 bertujuan untuk melindungi hak-hak dasar rakyat, tetapi negara-negara Islam merasa tidak puas. Kemudian, negara-negara Islam mengadakan konferensi tentang Hak Asasi Manusia Islam dan menghasilkan tindakan yang dikenal sebagai Deklarasi Kairo. Deklarasi Kairo merumuskan konsep-konsep Hak Asasi Manusia Islam yang memiliki karakteristik berbeda dari PBB. Maka dari itu makalah ini berusaha mencari persamaan serta perbedaan hak asasi manusia dalam UDHR dan Islam. Makalah ini berpendapat bahwa Islam dan UHDR telah membangun hak asasi manusia universal. UDHR menawarkan kesetaraan sebagai basis nilai sementara Islam menawarkan keadilan sebagai basis nilai.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong><em>hak asasi manusia, UDHR, Islam, kesetaraan, keadilan</em></p> Nugroho Nugroho Aristophan Firdaus ##submission.copyrightStatement## 2020-01-21 2020-01-21 20 2 10.19109/jia.v20i2.5074 KRITIK TERHADAP TAREKAT: TELAAH KRITISTERHADAP POLA PIKIR DAN CARA HIDUP SUFI http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA/article/view/5076 <p>Sufisme atau tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana memurnikan jiwa, memurnikan moralitas, mengembangkan Dhahir dan pikiran dan untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi. Sufisme pada awalnya merupakan gerakan zuhud dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisisme Islam. Pola hidup sufi adalah mengambil jalan yang lebih dekat dengan Allah SWT dengan meninggalkan sesuatu yang berharga yaitu kemewahan duniawi dengan berharap dan menginginkan sesuatu yang lebih baik untuk kebahagiaan akhirat.</p> <p>Dengan demikian, seorang Sufi adalah tipe seorang Muslim yang mencontohkan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, menjadi kumpulan bintang kehidupan yang dipenuhi dengan ketekunan dan ketulusan, amal spiritual, dan pertempuran abadi. Seorang sufi hidup dengan tubuh bersama dengan sopan santun dan jiwa bersama dengan sifat kebenaran.</p> <p>Namun di sisi lain para Sufi dianggap sebagai sumber kemunduran peradaban Islam. Sufisme dituduh sebagai 'virus' yang menghambat kemajuan dan menyebabkan keterbelakangan dunia Muslim di arena peradaban modern. Sufisme dan doktrin dianggap tidak relevan dengan semangat era global dan modernisme.</p> <p><strong>Kata Kunci : </strong><em>kritik, tasawuf dan sufi</em></p> Jamhari Jamhari ##submission.copyrightStatement## 2020-01-21 2020-01-21 20 2 10.19109/jia.v20i2.5076 “SHIFTING PARADIGM” PEMAHAMAN HADIS DI INDONESIA (Studi Interpretasi Kontekstual Ali Mustafa Ya’qub terhadap Hadis-Hadis Hubungan dengan Non-Muslim) http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA/article/view/5077 <p>Hampir semua jenis ilmu pengetahuan mengalami “shifting paradigm”, begitu juga pada kajian hadis.Era kontemporer, pemahaman hadis tertentu seringkali menimbulkan masalah dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks Indonesia, para pengkaji hadis berusaha untuk merekonstruksi metode pemahaman hadis Nabi agar dapat diterima dan membumi dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk. Ali masuk dalam deretan tokoh yang berpengaruh dalam kancah keilmuan hadis. Metode Interpretasi Kontekstual hadis yang diusungnya, Ali Mustafa Ya’qub dapat menempatkan posisi hadis Nabi SAW diterima pada konteks kekinian, tanpa menghilangkan dan mengabaikan pesan teks hadis itu sendiri. Penelitian ini menjadi penting untuk mengungkap dan menganalisis model interpretasi kontekstual Ali Mustafa Ya’qub dalam kerangka shifting paradigm terhadap hadis hubungan dengan non-muslim.</p> <p>Melalui metode deskriptif-analisis didapatkan bahwa dalam wacana &nbsp;Ali Mustafa Ya’qub hadis harus dipahami secara tekstual. Apabila pemahaman tekstual dinilai tidak mungkin dilakukan, maka pemahaman kontekstual harus diterapkan. Hadis-hadis bertema ghaib, ibadah murni dan hukum qath’i harus dipahami secara tekstual. Sebelum melakukan pemahaman hadis secara kontekstual, Ali mengingatkan untuk melalui metode penafsiran/syarah al-Qur’an dengan al-Qur’an, al-Qur’an dengan hadis dan hadis dengan hadis yang lain. Pemahaman kontekstual harus melihat aspek luar teks, yaitu sabab al-wurud hadis, makani dan zamani dan al-taqalid al-diniyah. Adapun model interpretasi kontekstual hadis, Ali melakukan generalisasi hal-hal khusus tentang hubungan dengan non-muslim, yaitu memilah hadis tentang perang diterapkan/dipahami dalam kondisi perang dan hadis damai diterapkan dan dipahami dalam kondisi damai. Sedangkan hierarki nilai yang terkandung dalam interpretasi kontekstual hadis Ali Mustafa Ya’qub adalah terdapatnya; 1) Obligatory Values, 2) Fundamental Values. 3) Protectional Values, dan 4) Implementational Values.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong>: <em>Shifting Paradigm, Interpretasi Kontekstual, Non-Muslim</em></p> Adriansyah . NZ ##submission.copyrightStatement## 2020-01-21 2020-01-21 20 2 10.19109/jia.v20i2.5077 MATIUS 28 :19 ANALISIS HERMENEUTIK DALAM TAFSIRAN ALKITAB MASA KINI http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA/article/view/5078 <p>Memahami eksegesis pada Matius 28 :19, yaitu Kuasa Tuhan yang universal membawa kepada kuasa universal tugas gereja untuk mengabarkan Injil dan baptisan Kristen dalam nama Yesus Kristus dan Tritunggal. Implementasi eksegesis Matius 28 :19 menurut iman Kristen bahwa Amanat Agung dan baptisan adalah dua hal yang saling bersinergis. Para murid bukan hanya memberitakan Injil kepada segala bangsa tetapi juga telah menerima mereka yang datang untuk dibaptis dalam nama Yesus dan mereka yang dibaptis dan yang membaptis keduanya telah menerima Roh Kudus.Baptisan pelayanan yang dilakukan Yesus semasa di bumi adalah baptisan pertobatan sama seperti baptisan Yohanes. Tetapi pasca Pentakosta Hal ini dianggap sebagai peralihan dari baptisan Yohanes ke baptisan Perjanjian Baru. Baptisan dalam nama Tubuh Kristus harus diberitakan kepada semua bangsa, hanya akan tiba setelah Yesus ditinggikan dan Roh Kudus dicurahkan. Baptisan gereja adalah penghapusan dosa melalui nama Kristus yang telah bangkit, nama Yang Maha Kuasa melalui kesaksian dari Roh Kudus.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong> : <em>hermeneutik, kuasa tuhan, baptis</em></p> Nur Fitriyana Murtiningsih Murtiningsih ##submission.copyrightStatement## 2020-01-21 2020-01-21 20 2 10.19109/jia.v20i2.5078 PENGARUH PEMAHAMAN FILSAFAT TERHADAP TINGKAT PEMAHAMAN RELIGIUS MAHASISWA AQIDAH DAN FILSAFAT ISLAM DI FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM UIN RADEN FATAH PALEMBANG http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA/article/view/5079 <p>Secara konseptual filsafat adalah jalan hidup yang dapat memberikan arah kepada manusia kepada kehidupan yang lebih baik melalui pemahaman religius. Hal ini menunjukkan adanya aspek pengaruh pada pemahaman filsafat dalam hubungannya dengan pemahaman religius. Melalui penelitian kuantitatif yang dilaksanakan melalui penyebaran angket ditemukan bahwa pada mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam terlihat pengaruh pemahaman filsafat terhadap pemahaman religius.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong><em>Mahasiswa, Filsafat, Religiusitas</em></p> Yulian Rama Pri Handiki Heni Indrayani ##submission.copyrightStatement## 2020-01-21 2020-01-21 20 2 10.19109/jia.v20i2.5079