Jurnal Ilmu Agama: Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA <p><img src="/public/site/images/jiajurnal/cover_issue_414_en_US_-_Copy.jpg"></p> <p>Jurnal Ilmu Agama: Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama is a journal that studies the Doctrine, Thought, and Religious Phenomena published by the Faculty of Usuluddin and Islamic Thought of Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Jurnal Ilmu Agama began in 2016 in two versions, print and online. Jurnal Ilmu Agama published in June and December. There are two version of publication; print out (p) with ISSN: <a href="http://www.issn.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1427073876&amp;1&amp;&amp;" target="_blank" rel="noopener">2443-0919</a> and electronic (e) with ISSN Online: <a href="http://www.issn.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1485406719&amp;1&amp;&amp;" target="_blank" rel="noopener">2549-4260.</a></p> Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang en-US Jurnal Ilmu Agama: Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama 2443-0919 <h4>The requirements that must be met by the author are as follows:</h4><ol><li>The author saves the copyright and gives the journal simultaneously with the license  under <span>Creative Commons Attribution License </span>which permits other people to share the work by stating that it is firstly published in this journal.</li><li>The author can post their work in an institutional repository or publish it in a book by by stating that it is firstly published in this journal.</li><li>The author is allowed to post their work online (for instance, in an institutional repository or their own website) before and during the process of delivery. (see<span>Open Access Effect</span>).</li></ol> GOD SPOT DAN TATANAN NEW NORMAL DI TENGAH PANDEMI COVID-19 http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA/article/view/6147 <p>Penyebaran Covid-19 sulit untuk diputus, sebab proses mutasinya begitu cepat dan dapat menimbulkan varian baru. Sehingga sulit untuk membuat vaksin. Banyak orang mengharapkan <em>herd imunity</em> yang diperlukan menuju tatanan <em>new normal. </em>Agama memiliki peran signifikan sebagai penguat bagi manusia dalam menjalani berbagai tantangan kehidupan yang tidak biasa, khususnya di masa pandemi dan menuju tatanan <em>new normal</em>. Jelasnya, muncul beragam sikap dan prilaku masyarakat beragama. Nada pesimis terhadap agama bahkan terhadap Tuhan juga muncul. Jangankan&nbsp; mengatakan wabah sebagai azab Tuhan karena kejahatan sudah merajalela. Bahkan dengan Tuhan pun mereka tidak percaya. Sehingga tulisan ini urgen sebagai bagian dari solusi dalam menghadapi pandemi covid-19 dan menuju <em>new normal</em>. <strong>S</strong>ebagai manusia yang beragama, sudah seharusnya menghadapi pandemi ini secara holistik, tidak cukup dengan pendekatan parsial dari segi medis,&nbsp; tetapi juga dengan pendekatan agama.</p> <p>Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa dalam menuju tatanan <em>new normal</em> perlu mensinergikan kekuatan agama dan sains. Karena agama bertugas menemukan makna dan sains bertugas menemukan fakta. Sehingga bukan hanya menjalankan protokol kesehatan saja tetapi juga perlu mengaktifkan titik <em>God Spot</em> yang mengembalikan manusia kepada kesucian fitrahnya untuk memperkuat mentalitas dan konsep diri dalam menghadapi tatanan <em>new normal</em>. Kepatuhan dan ketaatan kepada Allah, keihklasan, kesabaran dan ketabahan menghadapi pandemi covid-19 bersinergi dengan kesadaran kolektif berbasis keluarga untuk tetap sehat, yaitu mencuci tangan dengan air dan sabun yang mengalir, memakai masker ketika ke luar rumah, menjaga jarak, menjaga pola makan dan berolahraga untuk menjaga imun supaya tetap sehat.&nbsp; Suasana kecemasan, karena ketakutan&nbsp; pada virus corona perlahan mulai hilang seiring dengan doa yang senantiasa dipanjatkan kepada Sang Penguasa Tunggal.&nbsp; Sehingga suasana batin yang tenang ini justru dapat meningkatkan imunitas tubuh. Sejatinya menjalankan protokol kesehatan adalah bagian dari menjalankan ajaran agama.</p> Nur Fitriyana ##submission.copyrightStatement## 2020-07-03 2020-07-03 21 1 1 24 10.19109/jia.v21i1.6147 KAJIAN KRITIS KITAB MARAQI AL-‘UBUDIYAH http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA/article/view/6148 <p>Hadis merupakan sumber ajaran Islam yang berfungsi sebagai <em>bayan</em> (penjelas) al-Qur’an.Kegagalan memahami hadis akan berimbas pada kegagalan memahami pesan al-Qur’an mengingat sebahagian besar ayat-ayat al-Qur’an bersifat global. Disinilah pentingnya penggunaan metode syarah yang benar untuk mendapatkan pemahaman yang tepat dari sebuah hadis.Salah seorang&nbsp; ulama yang&nbsp; mengambil peran penting&nbsp; ini adalah Syekh Nawawial-Bantani(1813-1897 M), melalui karyanya, <em>Maraqi al-‘Ubudiyah </em>syarah <em>Bidayatul Hidayah </em>sebuah kitab karya Imam al-Ghazali yang banyak mengulas tuntunan atau adab dalam beribadah. Oleh karena berisi tuntunan dan adab beribadah, maka kitab ini menggunakan hadis-hadis Nabi saw sebagai landasan dalam uraiannya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana metode syarah Syekh Nawawi al-Bantani ketika berhadapan dengan hadis-hadis tersebut. Pertanyaan ini sangat menarik mengingat pemahaman teks agama (hadis) didominasi oleh pemahaman tekstual yang sering memunculkan stigma kaku dan rigid; adanya kebutuhan terhadap sebuah metode syarah dan juga pemahaman hadis yang relevan dengan konteks kekinian; dan sosok Syekh Nawawi al-Bantani serta karya-karyanya yang memiliki kedudukan istimewa dalam jaringan ulama nusantara dan perkembangan intelektual, khususnya di dunia pesantren; serta pemikirannya yang cenderung sufistik, padahal dalam tradisi pemikiran Islam, fiqh - bersama dengan aqidah, sering diposisikan pada kutub yang berlawanan dengan tasawuf sehingga muncul istilah syariah <em>vi</em><em>s a vis </em>hakikat.Temuan terhadap metode syarah al-Bantani sendiri diharapkan mampu menunjukkan keunggulan (dan kekurangan) karyanya ini dan sekaligus menjadikan metode syarahnya sebagai satu alternatif dalam memahami hadis Nabi, khususnya bagi Umat Islam Indonesia.</p> Hedhri Nadhiran ##submission.copyrightStatement## 2020-08-12 2020-08-12 21 1 25 48 10.19109/jia.v21i1.6148 PEMIKIRAN POLITIK ISLAM SYEKH TAQIYUDDIN AN-NABHANI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PLURALITAS DI INDONESIA http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA/article/view/6149 <p>Penelitian ini berangkat dari problem di mana fenomena yang terjadi di zaman sekarang ini. Ketika di Indonesia beredar pemikiran, &nbsp;isu semangat tentang berdirinya sistem politik Islam yaitu <em>khilafah </em>telah menjadi pembcaraan banyak kalangan. Menurut sebagian orang merupakan sesuatu yang sangat ditakuti. Indonesia sebagai salah satu negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Tetapi banyak masyarakatnya beranggapan negatif tentang sistem <em>khilafah</em>, dari pelajar, mahasiswa, dosen, sampai anggota pemerintahan yang notabenenya adalah orang-orang berpendidikan. Mungkin generasi umat Islam saat ini tidak tertarik dengan sistem <em>khilafah</em> karena tidak pernah membaca sejarah, menyaksikan kejayaan Islam pada masa lampau. Menurut Syekh Taqiyuddin an-Nabhani sistem <em>Khilafah</em> adalah satu-satunya cara untuk mewujudkan sistem Islam dalam kehidupan. Tapi, apakah sistem ini akan berimplikasi terhadap pluralitas di Indonesia.</p> <p>Hasil penelitian ini adalah bahwa sistem <em>khilafah</em> yang digagas oleh Syekh Taiyuddin an-Nabhani bisa berimplikasi positif dan negatif terhadap pluralitas di Indonesia. Berimplikasi negatif karena di Indonesia <em>The Founding Fathers</em> telah sepakat membentuk negara kesatuan republik Indonesia dan pancasila sebagai dasar negara. Akan tetapi dengan penerapan syariat dalam bingkai <em>khilafah</em> bisa juga berimplikasi positif sehingga ada tuduhan negatif bahwa ketika syariat Islam diterapkan akan mengancam pluralitas anggapan yang keliru juga.</p> M. Roki Novriansyah A. Rifai Abun Herwansyah Herwansyah ##submission.copyrightStatement## 2020-08-12 2020-08-12 21 1 49 64 10.19109/jia.v21i1.6149 MENJADI TAMU ALLAH SWT http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA/article/view/6150 <p>Bulan Ramadhan adalah momen berharga di mana umat Islam menjadi tamu Allah SWT SWT. Sebagai tamu, orang yang berpuasa tidak hanya disuguhkan berbagai hidangan (pahala) untuk dinikmati dengan kemudahan, tetapi juga dididik untuk menjadi manusia sempurna dengan meniru sikap dan adab tuan rumah. Berakhlak sebagaimana akhlak Allah SWT adalah tuntunan yang diajarkan di Bulan Ramadhan yang memiliki tujuan besar untuk menjaga kelangsungan peradaban umat manusia. Kesempurnaan manusia secara material dan spiritual dapat dengan mudah dicapai melalui puasa di Bulan Ramadhan, kesehatan jasmani dan ruhani adalah bahan dasar untuk mencapai peradaban yang sempurna.</p> Heni Indrayani ##submission.copyrightStatement## 2020-08-12 2020-08-12 21 1 65 77 10.19109/jia.v21i1.6150 DISKURSUS AGAMA TERHADAP AIDS DI INDONESIA http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA/article/view/6152 <p>Artikel ini akan menguraikan mengenai narasi AIDS di Indonesia. Ini akan focus pada relasi antara Pemerintah dan kelompok agama dalam hal ini agama Islam sebagai mayoritas yang dianut oleh penduduk Indonesia. Peran MUI sebagai institusi Islam sangat berperan besar dalam mempengaruhi setiap kebijakan yang dibuat di Indonesia. Narasi yang dibangun oleh yang dibangun oleh dua kelompok itu sangat berpengaruh terhadap program-program yang dibuat dalam penanganan HIV/AIDS di Indonesia.</p> Zaki Faddad Syarif Zain Aristophan Firdaus ##submission.copyrightStatement## 2020-08-12 2020-08-12 21 1 78 99 10.19109/jia.v21i1.6152 PEMIKIRAN NURCHOLIS MADJID TENTANG DEMOKRASI DAN NEGARA ISLAM http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA/article/view/6153 <p>Isu-isu tentang demokrasi dan konsep Negara Islam masih tetap menjadi studi yang menarik terutama di negara-negara yang notabene mayoritas agama Islam. Seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan, Iran, Maroko, dan lainnya. Banyak masalah muncul dari masalah ini. seperti demokrasi, misalnya, dalam ajaran Islam (Al-Quran) memberikan konsep keadilan, musyawarah, dan legalisme hukum Islam yang kemudian membawa umat Islam ke konsep "Negara Islam" yang menganggap bahwa Islam adalah struktur yang lengkap dan Hukum Kelompok. Dari apologis ini, beberapa orang memaksa diri mereka untuk menegakkan syariat Islam misalnya di Indonesia. Begitu banyak masalah ini muncul di tengah-tengah masyarakat dari awal kemerdekaan hingga hari ini, misalnya: DI / TII, NII, dan banyak pihak yang ditemukan - partai Islam bermunculan pasca-Reformasi pada tahun 1998. Ini menunjukkan bahwa ada adalah keinginan beberapa masyarakat Islam ingin mendirikan Syariat Islam. Namun, ini adalah masalah serius dan dapat melemahkan kondisi nasionalisme. Berangkatkan Darisinilah kemudian berbagai respons bermunculan baik pro maupun kontra. Nurcholis Madjid sebagai tokoh modernis dan sekuler memberikan pemikiran yang kontradiktif tentang masalah ini. Inilah yang kemudian studi tersebut akan terus menarik sampai kapan saja.</p> Jamhari Jamhari ##submission.copyrightStatement## 2020-08-12 2020-08-12 21 1 100 119 10.19109/jia.v21i1.6153 PEMIKIRAN IBN TUFAIL TENTANG PENGETAHUAN METAFISIKA DALAM KISAH HAYY IBN YAQHZAN http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA/article/view/6154 <p>Pengetahuan merupakan jalan, bukti eksistensi manusia dan bahkan menjadi ukuran kebernilaian manusia atau sesuatu yang harus diupayakan. Pengetahuan tidak dapat diciptakan. Pertama pengetahuan adalah selalu berkembang kedua pengetahuan tidak sempurna, ketiga pengetahuan adalah meningkatkan secara langsung dan keempat, bercabang-cabang dan bermacam-macam, manusia adalah makhluk yang selalu punya rasa ingin tahu, rasa penasaran, dan ingin terus mencoba dan mengetahui tentang segala hal. Oleh karena itu, tidak herankan kalau dalam sejarah perkembangan pemikiran muncul berbagai pendapat berusaha menjawab problem tersebut, meskipun demikian tetap harus diakui bahwa persoalan itu bukan hanya sering kali berbeda, namun juga sering kali bertentangan, tapi di balik pengetahuan metafisika yang ingin dicapai.</p> Ulpiyana Ulpiyana Ris’an Rusli Murtiningsih Murtiningsih ##submission.copyrightStatement## 2020-08-12 2020-08-12 21 1 120 141 10.19109/jia.v21i1.6154 RELASI PANDEMI TERHADAP IKLIM BUMI DAN PANDANGAN TEKS SUCI http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA/article/view/6155 <p>Tulisan ini mencoba memaparkan jejak kemunculan Covid-19 yang kini menjadi pandemi, dengan menitikberatkan pembahasan pada rusaknya ekosistem sebagai tempat tinggal satwa liaryang menjadi inang bagi virus. Krisis ekologi menjadi gerbang utama awal mula perubahan yang drastis terhadap iklim bumi. Iklim bumi sendiri mengalami perubahan signifikan yang tidak bisa dihindari akibat pemanasan global dan diyakini akan berdampak luas terhadap berbagai aspek kehidupan. Hal ini menjadi sebab utama merebaknya berbagai virus bahkan menyebabkan virus-virus tersebut bermutasi,yang tentunya menjadikan virus lebih kuat dan kebal terhadap berbagai vaksin.Selain dengan penjabaran yang mampu penulis suguhkan dengan berberapa sudut pandang keilmuan, keberadaan teks-teks suci juga mengingatkan danmenawarkannilai-nilai kehidupan yang oleh sebagian besar manusia mulai meninggalkannya. Penulis berupaya menyajikan prinsip-prinsip yang terkandung dalam ayat-ayat al-Quran sebagai upayaturutandil dalam mengedukasi masyarakat. Penulis juga berharap manusia menjadi khalifahsepenuhnya yang tentunya arif dan sadar akan tanggungjawab dalam menjaga, merawat, mengelola serta melestarikan segala potensi yang telah disediakan oleh Allah Swt di muka bumi.</p> Aruny Hayya Al Fadli ##submission.copyrightStatement## 2020-08-12 2020-08-12 21 1 142 165 10.19109/jia.v21i1.6155