Pemanfaatan Limbah Tulang Ikan Tenggiri Sebagai Sumber Gelatin Halal Melalui Hidrolisis Larutan Asam Dengan Variasi Rasio Asam

  • Siti Rodiah Dosen Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Raden Fatah Palembang
  • Mariyamah Mariyamah Dosen Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Raden Fatah Palembang
  • Riska Ahsanunnisa Dosen Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Raden Fatah Palembang
  • Desti Erviana Mahasiswa Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Raden Fatah Palembang
  • Fachtur Rahman Mahasiswa Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Raden Fatah Palembang
  • Annisa Widya Budaya Mahasiswa Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Raden Fatah Palembang

Abstract

Gelatin diperoleh dari hidrolisis parsial kolagen pada kulit, tulang, kulit jangat, dan jaringan penghubung dari tubuh binatang, yang banyak digunakan baik pada industri pangan, non pangan, maupun farmasi. Gelatin umumnya berasal dari sapi dan babi. Bahan sumber gelatin dari babi menjadi masalah di Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim, karena babi diharamkan untuk dikonsumsi, sedangkan bahan gelatin dari mamalia terutama sapi juga menimbulkan masalah lain berkaitan dengan berita penyakit sapi gila (mad cow disease) atau bovine spongioform encephalopathy (BSE). Pada penelitian ini telah dilakukan pemanfaatan tulang ikan tenggiri sebagai sumber alternatif gelatin halal. Tulang ikan tenggiri merupakan hasil samping atau limbah pada industri rumah tangga yaitu pembuatan pempek di kota Palembang. Penelitian ini bertujuan menghasilkan gelatin halal dari tulang ikan tenggiri yang dihidrolisis menggunakan larutan asam yang berasal dari perasan jeruk nipis dengan variasi rasio asam/tulang ikan 1:3, 1:5, dan 1:7. Dari hasil penelitian ini, diperoleh padatan gelatin yang berwarna coklat. Rasio tulang ikan/asam 1 : 3 adalah rasio optimum yang menghasilkan rendeman tertinggi yaitu 2,4643% dengan kadar air 24,20%. Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi dan pengembangan komoditi perikanan khususnya di wilayah sumatera selatan.
Published
29-06-2018
Section
Articles