BIMBINGAN KONSELING ISLAM DALAM MENANGANI DAMPAK PSIKOLOGIS ANAK YANG ORANG TUANYA KORBAN PEMBUNUHAN (STUDI KASUS PADA KLIEN “N” DI DESA TANJUNG PAYANG KEC. LAHAT KAB. LAHAT) BIMBINGAN KONSELING ISLAM DALAM MENANGANI DAMPAK PSIKOLOGIS ANAK YANG ORANG TUANYA KORBAN PEMBUNUHAN (STUDI KASUS PADA KLIEN “N” DI DESA TANJUNG PAYANG KEC. LAHAT KAB. LAHAT)

Main Article Content

Ratu Intan Nurdiah Suryati Suryati

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini mengkaji tentang Bimbingan dan Konseling Islam Dalam Menangani Dampak Psikologis Anak Yang Orang Tuanya Menjadi Korban Pembunuhan di Desa Tanjung Payang Kec. Lahat Kab. Lahat. Penelitian ini bertujuan untuk pertama, untuk mengetahui kondisi psikologis anak yang orang tuanya korban pembunuhan. Kedua, untuk mengetahui bimbingan konseling Islam dalam menangani dampak psikologis anak korban pembunuhan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan metode analisis data studi kasus Robert K Yin. Robert K Yin membagi tiga teknik analisis untuk studi kasus, yaitu: penjodohan pola, pembuatan eksplanasi, dan analisis deret waktu. Data yang digunakan dapat diperoleh dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari empat orang diantaranya adalah klien “N”, pembimbing dari klien, tokkoh masyrakat dan tokoh agama. Dari hasil penelitian ini yang di dapat dari hasil obervasi dan wawancara adalah: pertama kondisi psikologis klien “N” yang orang tuanya menjadi korban pembunuhan adalah bahwa sebelum kejadian dimana klien “N” ini melihat langsung ayahnya menjadi korban pembunuhan, klien “N” ini awalnya merupakan anak yang ceria seperti anak pada umumnya, ia juga merupakan seorang anak yang aktif berinteraksi dengan lingkungannya dan tanpa merasa takut dengan lingkungan sekitar. Situasi berubah setelah klien “N” ini melihat langsung ayahnya menjadi korban pembunuhan. Dari kejadian tersebut ternyata berdampak pada kondisi psikologis klien “N” sehingga klien “N” mengalami rasa takut untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar, sering terbayang dan terbawa mimpi dengan kejadian itu, sering melamun, suka menyendiri, pendiam, pemalu, dan cenderung tertutup dan juga klien “N” ini kurang dalam beribadah. Kedua adalah proses bimbingan konseling Islam terhadap klien “N” berjalan dengan baik dan klien “N” sudah mengalami perubahan pada kondisi psikologis yang lebih baik, dimana yang dilakukan klien “N” sekarang dilingkungan tempat ia tinggal, klien “N” sudah rajin dalam pelaksaan ibadah, tidak takut lagi apa yang ia takutkan selama ini, dan sudah mau berinteraksi dengan lingkungannya.

Article Details

Section
Articles