Abstract

Sejak tahun 2004, sosok Zakir Abdul Karim Naik, yang biasa dipanggil Zakir Naik, melakukan pencerahan Islam yang sarat bernuansa logis, rasionalitas, ilmiah, bahkan filosofis. Pencerahan keagamaannya tidak dalam bentuk ceramah agama sebagaimana biasanya yang dilakukan oleh para ulama dan kiyai Muslim. Pertama tidak cenderung dilakukan di mesjid. Kedua, tidak cenderung dihadiri hanya oleh Muslim semata, namun justru banyak dari kalangan non Muslim, penganut agnotisisme, bahkan ateis sekalipun. Hal ini adalah suatu yang fenomenal. Karenanya tulisan ini mempertanyakan; Seperti apa karakteristik nalar seorang Zakir Naik, jika ditinjau dari perspektif aliran-aliran filsafat. Dan, apakah nalar seorang Zakir Naik, mampu menjawab kebutuhan akan keyakinan terhadap teks-teks suci untuk konteks zaman kontemporer ini. Tujuan dan Manfaat Riset; (1) Menemukan bentuk konstruksi dan karakteristik bangunan nalar seorang Zakir Naik. (2) Membuktikan dan menjelaskan bahwa bentuk konstruksi nalar pencerahan akan teks-teks suci agama, adalah sudah menjadi sebuah kebutuhan masyarakat kontemporer. (3) Mengungkapkan bahwa agama masih dapat dimengerti dan diterima sepanjang bisa dijelaskan dan diiringi dengan nalar manusia menjadi pijakan dasar, namun tidak lagi satu-satunya dasar pandangan. Kerangka teori, dimana logika dilihat dari sudut aliran-aliran filsafat berdasarkan pandangan logika yang paling penting dari dasar bangunan aliran-aliran filsafat modern dan kontemporer, dan dari dasar metafisika yang ada. Nalar pemikiran Zakir Naik dapat dinyatakan merupakan bentuk gabungan antara nalar rasionalitas, nalar ilmiah, dan nalar religius. Alur-alur nalarnya dapat diukur dengan nalar filsafat, yang membentuk kontribusi jelas, baik di dunia da’i, dan dunia ilmiah. Bahwa dalam dunia ilmiah nalar Zakir Naik telah mampu menampilkan sebuah konsep integrasi ilmu, tujuan kehidupan, dan tujuan pengenalan terhadap hasil-hasil riset-riset ilmiah, yang tidak lain adalah untuk pendekatan dan pengenalan akan Allah SWT.