Analysis of Maximum Temperature and Average Humidity For Forest and Land Fire Mitigation (Case Study: Muaro Jambi District)

  • Rustan Rustan Universitas Jambi
  • Linda Handayani Universitas Jambi
Keywords: forest and land fire, humidity, hotspot, temperatur, surfer 11

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang distribusi beberapa parameter metereologi saat terjadi kebakaran hutan dan lahan di kabupaten Muaro Jambi. Parameter metereologi yang digunakan adalah suhu maksimum dan kelembaban rata-rata harian kabupaten Muaro Jambi sepanjang tahun 2019. Data tersebut diolah menggunakan Microsoft Excel dan dipetakan menggunakan perangkat lunak Surfer 11 untuk melihat distribusi suhu maksimum dan kelembaban rata-rata secara temporal. Surfer 11 secara default menggunakan metode Kriging dalam proses gridding data. Selain itu digunakan juga data jumlah titik panas (hotspot) provinsi Jambi tahun 2019 berdasarkan data satelit AQUA/TERRA (LAPAN) untuk melihat distribusi titik panas berdasarkan bulan dan kabupaten. Hasil yang diperoleh yaitu suhu maksimum yang terbesar berada pada rentang 33.5 °C  – 36 °C dan kelembaban rata-rata terkecil berkisar 62% – 72%, terjadi pada bulan September 2019. Sedangkan dari pengolahan data hotspot, jumlah titik panas terbanyak terdapat di kabupaten Muaro Jambi dan terjadi pada bulan September 2019. Hal ini menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan akan cenderung mudah terjadi pada kondisi cuaca suhu tinggi dan kelembaban rendah

References

BPS Muaro Jambi. (2019). Kabupaten Muaro Jambi dalam Angka 2019.

Chandler, C., Cheney, P., Thomas, P., Trabaud, L., & Williams, D. (1983). Fire in forestry. Volume 1. Forest fire behavior and effects. Volume 2. Forest fire management and organization. John Wiley & Sons, Inc..

Giglio, L. (2015). MODIS Collection 6 Active Fire Product User's Guide Revision A. Department of Geographical Sciences. University of Maryland.
[LAPAN] Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. 2016. Informasi Titik Panas (Hotspot) Kebakaran Hutan/Lahan. Jakarta. Sumber Daring. [Diakses 28 April 2020]. http://pusfatja.lapan.go.id/files_uploads_ebook/publikasi/Panduan_hotspot_2016 %20versi%20draft%201_LAPAN.pdf

Menlhk.(2020).http://sipongi.menlhk.go.id/hotspot/luas_kebakaran. Diakses pada 16 April 2020.

Nugroho, A. D., Faza, M. Z., & Winarso, P. A. Analisis Kondisi Meteorologi Terkait Kejadian Kebakaran Hutan di Lereng Gunung Merbabu. In Prosiding SNFA (Seminar Nasional Fisika dan Aplikasinya) (Vol. 3, pp. 24-34).

Saharjo, B.H. (1997). Mengapa Hutan dan Lahan Terbakar. Harian Republika. 29 September 1997

Saharjo, B. H., & Velicia, W. A. (2018). Peran Curah Hujan terhadap Penurunan Hotspot Kebakaran Hutan dan Lahan di Empat Provinsi di Indonesia pada Tahun 2015-2016. Silvikultur Tropika-Journal of Tropical Silviculture Science and Technology, 9(1), 24-30

Septianingrum, R. (2018). Dampak Kebakaran Hutan di Indonesia Tahun 2015 dalam Kehidupan Masyarakat.

Susanti, S., Ihwan, A., & Jumarang, M. I. (2013). Analisis Tingkat Kekeringan Menggunakan Parameter Cuaca di Kota Pontianak dan Sekitarnya. Prisma Fisika, 1(2).

Thoha, A. S. (2001). Cuaca kebakaran hutan kaitannya dengan upaya pencegahan kebakaran hutan di Indonesia.
Published
19-07-2020
How to Cite
Rustan, Rustan, and Linda Handayani. “Analysis of Maximum Temperature and Average Humidity For Forest and Land Fire Mitigation (Case Study: Muaro Jambi District)”. JIFP (Jurnal Ilmu Fisika dan Pembelajarannya) 4, no. 1 (July 19, 2020): 16-20. Accessed September 21, 2020. http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/jifp/article/view/5792.