Pedagang Melayu di Kesultanan Sambas 1819-1942: Terbangunnya Perdagangan, Relasi dan Jaringan

Main Article Content

Jaelani Jaelani
Duski Ibrahim
Endang Rochmiatun

Abstract

Perkembangan perdagangan yang pesat, telah mendorong tumbuhnya kota-kota pelabuhan disepanjang pesisir nusantara. Bersamaan dengan itu pula muncul kerajaan-kerajaan Islam di kawasan pesisir seperti Kesultanan Sambas yang berdiri pada dekade ketiga awal abad XVII, yang bergerak dalam aktivitas perdagangan, sehingga tumbuh pula golongan pedagang  Melayu dan pedagang-pedagang lainnya yang menjadi tulang punggung bagi aktivitas perekonomian masa itu. Sesungguhnya para pedagang atau saudagar yang bermukim di kota pelabuhan Sambas merupakan masyarakat yang hidup dari perdagangan dan pelayaran. Kelompok ini bersama sultan dan golongan bangsawan di kota pelabuhan Sambas banyak memberi warna pada pertumbuhan didua sektor kegiatan negara dan swasta. Sejarah sosial ekonomi dan politik Kesultanan Sambas abad XIX-XX, sesungguhnya tidak terlepas dari dua hal pokok yaitu terbentuknya kongsi-kongsi Cina di satu sisi dan hadirnya kekuasaan asing Eropa di sisi lain. Oleh karena itu, sejak munculnya jaringan perdagangan yang dikuasai pedagang-pedagang Cina dan menguatnya pengaruh politik serta ekonomi Belanda di Kesultanan Sambas, relasi dan jaringan perdagangan para pedagang Melayu mengalami perubahan. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses terbangunnya perdagangan Melayu, menganalisis relasi antara pedagang Melayu dengan pedagang-pedagang lainnya, dan jaringan perdagangan yang tumbuh di Kesultanan Sambas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah meliputi langkah-langkah: 1) heuristik, 2) kritik sumber, 3) interpretasi, dan 4) historigrafi.

Article Details

How to Cite
Pedagang Melayu di Kesultanan Sambas 1819-1942: Terbangunnya Perdagangan, Relasi dan Jaringan. Medina-Te : Jurnal Studi Islam, 15(2), 154-171. https://doi.org/10.19109/medinate.v15i2.3787
Section
Artikel

How to Cite

Pedagang Melayu di Kesultanan Sambas 1819-1942: Terbangunnya Perdagangan, Relasi dan Jaringan. Medina-Te : Jurnal Studi Islam, 15(2), 154-171. https://doi.org/10.19109/medinate.v15i2.3787

References

Andriati, Retno. (2012). Kebijakan dan Jaringan Bisnis Cina dari Jaman ke Jaman di Indonesia. Jurnal BioKultur, 1 (2), 111-126.
Arsip Nasional Republik Indonesia. (1848). Borneo West No. 209
-----------------. (1912, 1913). Kolonial Verslag, Handelingen der Staten-General, Bijlagen.
Creswell, Jhon W. (2009). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. Third Edition. California: Sager Publication.
Darmadi, Yusri dan Ika Rahmatika Chalini. (2017). “Nieuw Brussel” di Kalimantan Barat: Peran Strategis Sukadana pada Abad Ke-19. Yogyakarta: Kepel Press.
Dobbin, Christine. (2008). Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, Gerakan Padri. (Terjemahan Lilian D. Tedjasudhana). Depok: Komunitas Bambu.
Earl, George Windsor. (1837). The Eastern Sea or Voyage and Adventures in the Indian Archipelago in 1832, 1833, and 1834. London: W.H. Allen and Co.
Gottschalk, Louis. (1985). Mengerti Sejarah, (Terjemahan Nugroho Notosusanto). Jakarta: UI-Press.
Hambi, Badran. (1939). Naskah Soerat Idzin Menambah Tanaman Getah. Sambas.
Hasanuddin. (2014). Pontianak Masa Kolonial. Yogyakarta: Ombak.
Ismail, Muhammad Gade. (1985). Politik Perdagangan Melayu di Kesultanan Sambas Kalimantan Barat: Masa Akhir Kesultanan (1808-1818). Tesis, tidak dipublikasikan. Universitas Indonesia, Jakarta.
Jabir, I.K. (1990). Salinan Buku Harian Ayahanda Imam Muh. Jabir. Pontianak.
Kartodirdjo, Sartono. (1987). Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Dari Emporium Sampai Imperium. Jilid 1. Jakarta: Gramedia Putaka Utama.
Leur, J.C. van. (2015). Perdagangan dan Masyarakat Indonesia: Esai-esai tentang Sejarah Sosial dan Ekonomi Asia. (Terjemahan Abmi Handayani, Abdul Aziz, dan Aditya Pratama). Yogyakarta: Ombak.
Listiana, Dana. (2014). Dari Pacht Pasar ke Pasarfonds: Pasar Pontianak dalam Kebijakan Ekonomi Kolonial Baru pada Awal Abad XX. Jurnal Widyariset, 17 (1), 83-92.
Moor, J.H. (1837). Trade With the West Coast Borneo. Dalam J.H. Moor, (Ed.), Notices of the Indian Archipelago and Adjacent Countries. Singapura: Tanpa Penerbit
Peeters, Jeroen. (1997). Kaum Tuo-Kaum Mudo: Perubahan Religius di Palembang 1821-1942. Jakarta: INIS.
Prehn, R.C. van. (1858). Aantekeningen Omtrent het Borneo Westkust. Tijdschrift van Bataviaasch Gennootschap, (VII).
Purwanto, Bambang. (2000). Merajut Jaringan di Tengah Perubahan: Komunitas Ekonomi Muslim di Indonesia pada Masa Kolonial. Lembaran Sejarah, 2 (2).
Rahmayani, Any, at.al., (2014). Tanaman Niaga di Borneo Barat Pada Awal Abad ke-20: Studi Tentang Karet dan Kelapa. Yogyakarta: Kepel Press.
-------------, Any dan Ina Mirawati. (2015). Aktivitas Perdagangan Pelabuhan Sambas. Yogyakarta: Kepel Press.
Reid, Anthony. (2014). Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Sandick, J.C.F. van and V.J. van Marle, (1919). Verslag eener Spoorwegverkenning in Noordwest Borneo, Dienst der Staats-Spoor-en Tramwegen, Mededeelingen Opname No. 13, Nopember.
Suhaili, Arpan dan Mariyadi. (2018). Kamus Bahasa Melayu Sambas-Indonesia. Pontianak: ILBI.
Vleming Jr., J.L. (1926). Het Chineesche Zakenleven in Nederlandsch-Indie. Disadur oleh Bob Widyahartono. (1989). Kongsi dan Spekulasi; Jaringan Kerja Bisnis Cina. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Wahyono, Effendi. (1996). Pembudidayaan dan Perdagangan Kopra di Minahasa (1870-1942). Tesis, tidak dipublikasikan. Universitas Indonesia, Jakarta.
Yahya, Bujang H. (1911). Naskah Surat Pelayaran. Sambas.