PERKEMBANGAN FISIK-MOTORIK SISWA USIA DASAR: MASALAH DAN PERKEMBANGANNYA

Main Article Content

Deska Puspita Wina Calista Suyadi Suyadi

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis perkembangan fisik-motorik siswa usia dasar yang tidak tercapai. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, data diperoleh dengan observasi, wawancara dan dokumentasi.. Penelitian dilakukan di SLB Bakti Kencana I. Sampel dalam penelitian ini adalah satu orang siswa dikelas III yang mengalami kelainan pada proses perkembangan fisik-motorik. Hasil analisis kemudian dianalisis dengan menggunakan kajian teori mengenai perkembangan fisik-motorik siswa yang tidak tercapai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan fisik-motorik siswa yang tidak tercapai disebabkan karena siswa mengalami kelainan genetik (down syndrome) . Down syndrome adalah kelainan genetik yang disebabkan kerena kelebihan kromosom 21 atau trisomy 21 yang menyebabkan keterbatasan fisik, motorik, serta intelektual, dan sering terjadi dengan insidensi 1:1000 kelahiran yang salah satunya berakibat lemahnya otot pada salah satu tangan sehingga siswa sulit melakukan gerakan seperti menulis, menggambar serta aktifitas sehari-hari. Pembelajaran didalam kelas disesuaikan dengan minat belajar siswa. Adapun tujuan utama dalam pembelajaran untuk anak-anak yang memiliki perkembangan fisik motorik yang tidak tercapai (down syndrome ) yaitu melatih kemandirian anak dan interaksi sosial dalam lingkungan sekitar.

Article Details

Section
Artikel Asli

References

Aghnaita. (2017). Perkembangan Fisik Motorik Anak 4-5 Tahun Pada Permendikbud no.137 Tahun 2014 (Kajian Konsep Perkembangan Anak). Al-Athfal: Jurnal Pendidikan Anak , 225.
Arikunto, S. (2010). Manajemen Penelitian. Jakarta: PT.Rineka Cipta.
Cahyani, F. P. (2018). Identifikasi Penyimpangan Tumbuh Kembang Anak Dengan Algoritma Backpropagation. Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer , 4.
Desmita. (2012). Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Fahami, T. (2014). Proses Tumbuh Kembang Siswa Usia Dasar. Jurnal Pendidikan , 20.
Hurlock, E. B. (1997). Perkembangan anak jilid 1. Jakarta: PENERBIT ERLANGGA.
ILO. (2016). Inklusi Penyandang Disabilitas Di Indonesia. Dipetik 10 21, 2018, dari www.ilo.org/jakarta
Kawanto, F. H. (2010). Factors Associated with Intellegences in Down Syndrome . Pediatrica Indonesiana , 194-199.
Malik, Z. D. (2014). Meningkatkan Potensi Gerak Dasar Anak Tunadaksa Ringan Melalui Pendekatan Bermain. JRR, JPOK FKIP Universitas Sebelas Maret , 40.
Meggitt, C. (2013). Memahami Perkembangan Anak. Jakarta: Indeks.
Murti, T. (2018). Perkembangan Fisik Motorik dan Perseptual serta Implikasinya pada Pembelajaran di Sekolah Dasar. jurnal Universitas Malang , 24.
Nadia Uswatun Hasanah, H. W. (2014). Pola Asuh Orang Tua Dalam Upaya Pembentukan Kemandirian Anak Down Syndrome. SOCIAL WORK JURNAL .
Rina, A. P. (2016). Meningkatkan Life Skill pada Anak Down Syndrome dengan Teknik Modelling. Persona, Jurnal Psikologi Indonesia , 215-216.
Selikowitz, M. (2001). mengenal sindroma down. jakarta: PT.Archan.
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitati, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukmadinata, N. S. (2006). Metode Penelitian Pendidikan . Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
Suyadi, M. U. (2013). Konsep Dasar PAUD. Bandung: PT Remaja Rosdakarya .
Suyatno, S. (2005). Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Hikayat Publishing.
Upton, P. (2012). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Yusuf, S. (2014). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya