Tasawuf dan al-Qur’an Tinjauan Dunia Ilmu Pengetahuan dan Praktek Kultural-Religius Ummat
Main Article Content
Abstract
Penelitian ini merupakan hasil penelitian yang membahas bidang Ilmu Tasawuf dengan mempergunakan methode deskriptif analitik. Penelitian menghasilkan bahwa Tasawuf bukanlah merupakan ajaran dalam arti syariat, yang langsung tertera dalam Alquran maupun al-Hadits, Tasawuf tidak lebih sebagai tradisi dalam Islam karena tasawuf merupakan produk fikiran dan perasaan para sufi. Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa tasawuf bukan bagian dari ibadah syar’iyah. Sedangkan perspektif ilmu pengetahuan, tasawuf wajib untuk dipelajari. Ilmu tasawuf yang difahami kemudian berfungsi preventif dan okuratif. Praktik-praktik tasawuf secara institusi bukanlah bagian dari syariat agama Islam. Namun secara parsial, nilai-nilainya selaras dengan ajaran Alquran dan al-Hadits. Oleh karena itu, tidak ada kewajiban dan larangan untuk menjalani atau menempuh jalan tasawuf. Sebagai tradisi dalam Islam, Tasawuf sebagai jalan muamalah yang sah-sah saja untuk ditempuh, artinya boleh diikuti dan boleh tidak diabaikan.
The two purposes of this study are, to describe a position of Sufism on the Islamic teaching, tradition and knowledge, and to find out a Moslem worldview and attitude toword practicing of Sufism and tharikat on Al-Qur’an and cultural perspective. We throughout three ways for technical analysis; interpreted the data, clasificied and described the data into couple of concept; sufism and Holy Qoran, and then made sinergy between those both prime concepts to the integral concept to be analyze on Islamic teaching, tradition and knowledge perspective. Hence, overall this research shows that Sufism is not a teaching what had wrote in Al-Qur’an or al-hadits but it is a tradition in Islam. Because Sufism is both thought and feeling products. It mean, that Sufism is not a part of Syariah. On the perspective of knowledge, Sufism wish to be learn in order to become preventive or occurative functions. The Sufism practicings institusionally is not the part of Syariat. But particulary, its norma has relevanced by Al-Qur’an and al-Hadits teachings. So that, there is no obligation to practice Sufism. As an Islamic tradition, it’s free to be done or left.
Article Details
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work
How to Cite
References
Hadi WM, Abdul, Sastra Sufi Sebuah Antologi, Jakarta, Pustaka Firdaus, 1996.
Chalil, Munawar, Kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Jakarta, Bulan Bintang, 1977.
Hamka, Beberapa Tantangan Terhadap Ummat Islam di Masa Kini; Sekularisme, Sinkritisme dan Ma’shiyat.. Jakarta: Bulan Bintang, 1973.
-------Falsafah Hidup. Jakarta: Pustaka Panimas, 1984.
-------Pandangan Hidup Muslim. Jakarta: Bulan Bintang; 1961.
-------Perkembangan Tasawuf dari Abad ke Abad. Jakarta: Pustaka Keluarga, 1952. Cet.-1.
-------Renungan Tasawuf. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1985.
-------Revolusi Agama. Jakarta: Pustaka Islam, 1962/ cet.III, 1949.
-------Tasauf Modern. Bukit Tinggi-Jakarta: NV. Nusantara, 1963.
-------Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya. Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1980.
Tim Penyusun Naskah Teks Books, Pengantar Ilmu Tasawuf, Medan: Proyek PPTA/ IAIN Sumatera Utara, 1982.
Munawar Chalil, Al-Qur’an dari Masa ke Masa, t.k., Ramadhani, t.t.
Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam; Pokok-Pokok Fikiran Tentang Islam dan Ummatnya, Jakarta, CV. Rajawali, 1986.
Abdul Wahab Khallaf, Kaidah-Kaidah Hukum Islam, Bandung, Risalah, 1983.
M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pengantar Hukum Islam I, Jakarta, Bulan Bintang, 1980.
Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam,Jakarta: Bulan Bintang, 1973.
Abdul Aziz Dahlan, Penilaian Teologis atas Faham Wahdaħ al-Wujûd (Kesatuan Wuhjud); Tuhan, Alam, Manusia dalam Tasawuf Syamsuddin Sumatrani, Padang: IAIN-IB, 1999.
Azyumardi Azra. Jaringan Ulama Timur Tengah Dan Kepulauan Nusantara Abad XVII Dan XVIII (Bandung: Mizan, 1994).