Pendekatan Penanfisran al-Qur’an yang Didasarkan pada Instrumen Riwayat, Nalar, dan Isyarat Batin

Main Article Content

Junizar Supratman

Abstract

Tulisan ini mengkaji mengenai tiga jenis pendekatan dalam tafsir. Pertama, Pendekatan tafsir bi al-ma’tsur  (suatu penafsiran yang lebih banyak terfokus kepada sumber penafsiran dengan menggunakan riwayat-riwayat). Karakteristik dari pendekatan tafsir bi al-ma’tsur, yakni: dominannya para mufassir menggunakan riwayat-riwayat sebagai sumber atau instrument dalam menafsirkan ayat. Dominannya penggunaan riwayat dalam menafsirkan ayat, bukan berarti pendekatan tafsir bi al-ma’tsur mengabaikan instrumen penafsiran lainnya, termasuk ilmu tentang bahasa atau kaedah-kaedah yang lainnya. Kedua, pendekatan tafsir bi bi ar-ra’y (suatu penafsiran yang lebih banyak terfokus kepada sumber penafsiran dengan menggunakan penalaran atau sains). Karakteristik pendekatan tafsir bi bi ar-ra’y ini terlihat pada dominannya menggunakan nalar atau sains sebagai sumber atau instrumen penafsiran dalam menafsirkan ayat. Ketiga, pendekatan tafsir bi bi isyary (suau penafsiran yang lebih banyak terpokus kepada sumber penafsiran dengan menggunakan isyarat-isyarat atau kesan yang bersifat batiniah). Karakteristik pendekatan tafsir bi bi isyary dapat dilihat dari dominannya unsur-unsur pengetahuan batiniah yang berupa kesan-kesan yang muncul dari penafsir. This article examines the three types of approaches to interpretation. First of all, the approach of the tafsir bi al-ma'tsur (an interpretation that is more focused on the source of interpretation by using narrations). Characteristics of approach of tafsir bi al-ma'tsur, namely: the dominance of the commentators use the reports as a source or instrument in interpreting paragraph. Dominant use of history in interpreting the verse, it does not mean approach to the tafsir bi al-ma'tsur ignores other instruments, including the science of language. Second, the approach of the tafsir bi ar-ra'y (an interpretation that is more focused on the source of interpretation by using reasoning or science). Approach characteristics of the tafsir bi-ra'y are seen in dominant use of reason and science as the source or instrument of interpretation in interpreting paragraph. Thirdly, the approach of the tafsir bi isyary (suau interpretation more terpokus to the source of interpretation by using gestures or impression inward). Characteristics of tafsir bi isyary approach can be seen from the dominant elements of inner knowledge which form the impressions that emerge from the interpreter.

Article Details

How to Cite
“Pendekatan Penanfisran Al-Qur’an Yang Didasarkan Pada Instrumen Riwayat, Nalar, Dan Isyarat Batin”. Intizar 20, no. 1 (March 23, 2016): 43–62. Accessed April 3, 2025. https://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/intizar/article/view/422.
Section
Artikel

How to Cite

“Pendekatan Penanfisran Al-Qur’an Yang Didasarkan Pada Instrumen Riwayat, Nalar, Dan Isyarat Batin”. Intizar 20, no. 1 (March 23, 2016): 43–62. Accessed April 3, 2025. https://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/intizar/article/view/422.

References

al-Qattan, Manna’. (1973). Mabâhis fi Ulûm al-Qur’ân. Riyad: Mansurat al-‘Asr al-Hadis.

Al-Sabuni. (1985). al-Tibyân fi ‘Ulum al-Qur’ân, Beirut: ‘Alam al-Kutub.

al-Syarqawi, Hasan. (1987). Mu’jam Alfaz al-Sufiyyah, Kairo: Muassasah Mukhtar.

al-Zahabi, Muhammad Husain. (1976). al-Tafsir wa al-Mufassirun. ttp. tp.

Amri, Arie Machlina. (2014). “Metode Penafsiran Al-Quran”. Jurnal Insyirah [Online], Vol. 2, No. 1.

Ash-Shabuniy, Muhammad Ali. (1999). Studi Ilmu al-Qur’an, alih Bahasa, Aminudin, Bandung: PustakaSetia.

Baharuddin HS. (2002). Corak Tafsir Ruh al-Ma’ani Karya al-Alusi Telaah Atas Ayat-ayat yang Ditafsir Secara Isyarah. Disertasi Doktor dalam Ilmu Agama Islam Pada Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Chirzin, Muhammad. (2003). Permata al-Qur’an, Qirtas. Jakarta: Kelompok Penerbit Kalam.

HS, Baharuddin. (2002). “Corak Tafsir Ruh al-Ma’ani Karya al-Alusi Telaah Atas Ayat-ayat yang Ditafsir Secara Isyarah.” Disertasi Doktor dalam Ilmu Agama Islam Pada Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mahmûd, Mani’ ‘Abd al-Halîm. (1978). Manâhij al-Mufassirûn. Kairo: Dâr al-Kitâb al-Misrî/ Bairut: Dâr al-Kitâb al-Lubnânî.

Mesra, Alimin. (2005). Ulumul Qur’an. Jakarta: Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Jakarta.

Ramli, Rushdi. (2014). “The Exegesis of The Quran Trough The Means of Al-Isyarah: A Critical Evaluation”, International Journal of Social Science & Human Behavior Study [Online], Vol. 1. No. 3.

Shihab, M. Quraish. (2013). Kaidah Tafsir Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-ayat al-Qur’an; Editor Abd. SyakurDj., Tangerang: Lentera Hati.

Shihab, M. Quraish. (2013). Kaidah Tafsir Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-ayat al-Qur’an. eds. Abd.SyakurDj. Tangerang: Lentera Hati.

Syafi’i, Abdul Manan. (2012). “Perspektif Al-Quran tentang Ilmu Pengetahuan”. Jurnal Media Akademika [Online]. Vol. 27. No. 1.

Zahabi. (1991). Penyimpangan dalam Penafsiran Al-Quran. terjemahan M. Husein. Jakarta: Rajawali Press.

Zaini, Muhammad. (2012) “Sumber-sumber Penafsiran Al-Quran”. Jurnal Substantia [Online]. Vol. 14, No. 1.

Zaki, Hasan. tth. ‘Abbas Latâif al-Isyârât (kata Pengantar). Jilid I. Kairo: Dâr al-Kitâb al-‘Arabi li al-Thibâ’ah wa al-Nasyr.