Makna Tradisi Perang Ketupat dalam Tinjauan Filsafat Budaya di Desa Air Lintang Kecamatan Tempilang Kabupaten Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Main Article Content

Resna Septiani Putri
Apriyanti Apriyanti
Ahmad Soleh Sakni

Abstract

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi perang ketupat yang dilakukan masyarakat desa Air Lintang. Penelitian ini juga berupaya mengungkapkan makna filosofi di balik tradisi perang ketupat berikut dengan sejarah yang melatarbelakangnya. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan atau field research. Metode ini untuk menemukan secara khusus realitas aktual tentang apa yang sedang terjadi di masyarakat yang diekspresikan dalam bentuk gejala atau proses. Metode yang digunakan ialah Antropologi. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua sumber, yaitu data primer dan data sekunder. Cara untuk pengumpulan data dalam penelitian ini ialah mengunakan metode observasi atau pengamatan untuk mendapatkan informasi, wawancara dengan narasumber dan dokumentasi. Dan anaslis data ini secara deskriftif kualitatif. Tradisi ini bermula pada tahun 1883 yang dilakukan di Benteng Kota oleh kepala suku bernama Dimar untuk melawan bajak laut. Bertepatan saat itu terjadi kehilangan seorang anak oleh siluman buaya. Hal ini para tokoh melakukan ritual taber kampong. Tujuan ini terhindar dari musibah, adapun sebagai bentuk persatuan dan kesatuan yang kokoh dan bersifat gotong royong. Tradisi ini terdapat simbol dari ketupat itu sendiri dan memiliki nilai-nilai Islam dalam tradisi tersebut. Nilai Islam yang ada dalam tradisi ini adalah nilai Aqidah, nilai Akhlak dan nilai-nilai lainnya. Tradisi ini mengajak masyarakat untuk menghindar dan sebagai wujud syukur kepada Allah untuk melindungi masyarakat dari bencana. Disamping itu para leluhur telah mewariskan tradisi yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.
Kata Kunci: Tradisi, Perang Ketupat, Nilai-nilai dan Filsafat Kebudayaan
 
Abstract
This study aims to describe the tradition of ketupat warfare carried out by the people of Air Lintang village. This research also seeks to reveal the philosophical meaning behind the tradition of ketupat warfare along with the history behind it. This research is a field research or field research. This method is to find specifically the actual reality of what is happening in society which is expressed in the form of symptoms or processes. The method used is Anthropology. There are two sources of data in this study, namely primary data and secondary data. Techniques in collecting data in this study are by observation, interviews and documentation. And this data analysis is descriptive qualitative. This tradition began in 1883 which was carried out at the City Fortress by a tribal chief named Dimar to fight pirates. At that time, the crocodile demon lost a child. This is when the figures perform the taber kampong ritual. This goal is to avoid disaster, even as a form of solidarity and mutual cooperation. This tradition has a symbol of the ketupat itself and has Islamic values ​​in that tradition. Islamic values ​​in this tradition are aqidah values, moral values ​​and other values. This tradition invites people to avoid and as a form of gratitude to Allah to protect people from disasters. Besides that, the ancestors have inherited traditions that have developed in people's lives.
Keywords: Tradition, Ketupat War, Cultural Values ​​and Philosophy

Article Details

How to Cite
“Makna Tradisi Perang Ketupat Dalam Tinjauan Filsafat Budaya Di Desa Air Lintang Kecamatan Tempilang Kabupaten Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung”. EL-FIKR: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam 1, no. 1 (December 21, 2020): 84–100. Accessed June 24, 2024. https://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/elfikr/article/view/7255.
Section
Articles

How to Cite

“Makna Tradisi Perang Ketupat Dalam Tinjauan Filsafat Budaya Di Desa Air Lintang Kecamatan Tempilang Kabupaten Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung”. EL-FIKR: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam 1, no. 1 (December 21, 2020): 84–100. Accessed June 24, 2024. https://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/elfikr/article/view/7255.

Most read articles by the same author(s)

1 2 > >>